Rabu, 24 Januari 2024

RESUME PENDIDIKAN

  RESUME / CATATAN KECIL 

PART 1


Pendidikan  yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri. 

Meskpun pendidikan itu hanya ‘tuntunan’ saja di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, tetapi perlu juga Pendidikan itu berhubungan dengan kodrat keadaan dan keadaannya setiap anak. 

Mengenai dasar jiwa yang dimiliki anak-anak itu, terdapat tiga aliran yang berhubungan dengan soal daya Pendidikan. 

1.  Aliran Teori Rasa

2. Aliran Negative

3. Aliran yang terkenal dengan nama convergentie-theorie

Pendidikan yang teratur yaitu pendidikan yang berdasarkan pada pengetahuan, yang dinamakan “Ilmu Pendidikan”. Ilmu ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi masih berhubungan ilmu-ilmu lainnya, yang dinamakan ilmu syarat-syarat pendidikan (hulpwetenschappen), yang terbagi menjajdi 5 jenis, yaitu: 

1. Ilmu hidup batin manusia (ilmu jiwa, psychologie); 

2. Ilmu hidup jasmani manusia (fysiologie); 

3. Ilmu keadaan atau kesopanan (etika atau moral); 

4. Ilmu keindahan atau ketertiban-lahir (estetika); 

5. Ilmu tambo Pendidikan (ikhtisar cara-cara Pendidikan) 

Peralatan Pendidikan

Yang dimaksud dengan ‘peralatan’ adalah alat-alat pokok, yakni caracara mendidik. Perlu diketahui bahwa cara-cara mendidik beragam banyaknya, akan tetapi pada dasarnya cara tersebut dapat dibagi seperti berikut: 

1. Memberi contoh (voorbeld); 

2. Pembiasaan (pakulinan, gewoontervorming) 

3. Pengajaran (wulang-wuruk, leering) 

4. Perintah, paksaan dan hukuman (regearing en tucht); 

5. Tindakan (laku, zelfberheersching, zelfdiscipline); 

6. Pengalaman lahir dan batin (nglakoni, ngrasa, beleving). 

Cara-cara tersebut tidak perlu dilakukan semuanya, bahkan ada kaum pendidik yang tidak sepakat dengan salah satu cara. Misalnya, para pendidik dari pihak vrije opvoeding (Pendidikan bebas), tidak suka memakai alat nomor 4 (perintah, paksaan, hukuman). Seringkali pendidik menggunakan salah satu cara saja dan pada umumnya disesuaikan dengan keadaankeadaan tertentu, misalnya disesuaikan dengan umur anak-anak didik. 

(Dikutip dari modul CGP)


Rabu, 17 Januari 2024

Yuuk ah kita meneladani Rasul

 Dari Sa’id bahwasanya Sa’ad mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya,

 


Sedekah apa yang paling engkau sukai.” Jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah air.”



(HR. Abu Daud, no. 1679 dan An-Nasai, no. 3694; 3695; Ibnu Majah, no. 3684)


Senin, 08 Januari 2024

Khutbah Idul Adha


KHUTBAH KE-1

Momentum Hari Raya Qurban

         

Hadirin jamaah sholat idul adha rahimakumulloh.

Seluruh puji dan puja hanyalah milik Allah swt yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya dengan sempurna dan luarbiasa.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw beserta keluarga, sahabat dan para penerusnya hingga hari kiamat nanti. Aamin.

Kemuliaan dan kasih sayang Alloh SWT sekali lagi masih diberikan kepada kita semua untuk menikmati dan melaksanakan ibadah shalat Idul Adha, takbir, tahmid dan tahlil kembali menggema di seluruh muka bumi ini sekaligus menyertai saudara-saudara kita yang datang menunaikan panggilan agung ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji, sebagai rukun Islam yang kelima.

Allahu Akbar 3x Allahu Akbar Wa lillahil-hamd

Hari raya Idul Adha merupakan hari raya istimewa dikarenakan dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini, yaitu ibadah haji dan ibadah qurban.

Ibadah qurban tahunan yang umat Islam laksanakan adalah bentuk i’tibar atau pengambilan pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Setidaknya ada tiga pesan umum yang bisa kita tarik dari kisah tersebut: 

1.      Pertama, Tentang totalitas kepatuhan kepada Allah subhânau wata’âla. Nabi Ibrahim yang mendapat julukan “khalilullah” (kekasih Allah) mendapat ujian berat pada saat rasa bahagianya meluap-luap dengan kehadiran sang buah hati di dalam rumah tangganya. Lewat perintah menyembelih Ismail, Allah seolah hendak mengingatkan Nabi Ibrahim bahwa anak hanyalah titipan. Anak betapapun mahalnya kita menilai tak boleh melengahkan kita bahwa hanya Allahlah tujuan akhir dari rasa cinta dan ketaatan. 

Nabi Ibrahim lolos dari ujian ini. Ia membuktikan bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya untuk tujuan mempertahankan nilai-nilai Ilahi. Dengan penuh ketulusan, Nabi Ibrahim menapaki jalan pendekatan diri kepada Allah sebagaimana makna qurban, yakni pendekatan diri. 

Sementara Nabi Ismail, meski usianya masih belia, mampu membuktikan diri sebagai anak berbakti dan patuh kepada perintah Tuhannya. Yang menarik, ayahnya menyampaikan perintah tersebut dengan memohon pendapatnya terlebih dahulu, dengan tutur kata yang halus, tanpa unsur paksaan. Atas dasar kesalehan dan kesabaran yang ia miliki, ia pun memenuhi panggilan Tuhannya. 

Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh, 

2.      Pelajaran kedua adalah tentang kemuliaan manusia. Dalam kisah itu di satu sisi kita diingatkan untuk jangan menganggap mahal sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan, namun di sisi lain kita juga dihimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia. Penggantian Nabi Ismail dengan domba besar adalah pesan nyata bahwa pengorbanan dalam bentuk tubuh manusia adalah hal yang diharamkan. 

Manusia dengan manusia lain sesungguhnya adalah saudara. Mereka dilahirkan dari satu bapak, yakni Nabi Adam ‘alaihissalâm. Seluruh manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah dalam kemuliaan. Karena itu membunuh atau menyakiti satu manusia ibarat membunuh manusia atau menyakiti manusia secara keseluruhan. Larangan mengorbankan manusia sebetulnya penegasan kembali tentang luhurnya kemanusiaan di mata Islam dan karenanya mesti dijamin hak-haknya. 

3.      Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan qurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas, meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain sebagainya. 

Berqurban memiliki makna mulia jika hakikat berqurban itu dapat kita pahami dengan baik. Berqurban bukanlah sekadar ritual tanpa makna, atau teradisi tanpa arti. Berqurban, harus mampu menggugah perasaan pelakunya untuk menghayati apa yang tersirat dan tersurat dari pelaksanaan ritual tersebut.

Rasa suka cita yang dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim as. untuk berkorban dilandasi atas pemahaman yang benar tentang nilai-nilai kehidupan. Mereka menyadari sepenuhnya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini: anak, isteri, harta, pangkat dan jabatan semuanya datang dari Allah dan pasti akan kembali kepada Allah. Oleh sebab itu, bagaimana pun modelnya perintah Allah harus dilaksanakan sebaik-baiknya tanpa melihat untung dan rugi, enak tidak enak, mudah dan sulit, maupun berat dan ringannya.

Kita selaku generasi masa kini telah berhutang budi kepada generasi-genersai sebelumnya dalam seluruh apa yang kita ni`mati saat ini sebagai hasil dari pengorbanan, perjuangan dan sikap mereka yang mendahulukan kepentingan orang lain. Maka sepatutnyalah jika kita melanjutkan rangkaian pengorbanan mereka itu sehingga kita dapat menyampaikan keni`matan ini kepada generasi berikutnya seperti yang telah dilakukan oleh generasi sebelum kita.

Kaum Muslimin Yang Berbahagia.

Dalam kehidupan ini, ada banyak sekali prinsip-prinsip hidup yang harus kita jalani dan kita pegang teguh. Belajar dari kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya, pada kesempatan ini paling tidak, ada empat prinsip hidup yang harus kita wujudkan dalam kehidupan kita, baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat dan bangsa.

Pertama, berdoa. Salah satu yang amat penting untuk kita lakukan dalam hidup ini adalah berdoa kepada Allah swt. Do’a bukan hanya menunjukkan kita merendahkan diri kepada Allah, tapi memang kita merasa betul-betul memerlukan bantuan dan pertolongan-Nya, karena Allah adalah segala-galanya, sedangkan kita amat memerlukan dan tergantung kepada-Nya. Diantara doa Nabi Ibrahim as adalah agar negeri yang ditempati diri dan keluarganya dalam keadaan aman . Allah swt berfirman menceritakan doa Nabi Ibrahim as:


Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS Ibrahim [14]:35).

Dalam konteks kehidupan negara kita yang mengalami krisis, apalagi saat ini kita masih sedang menghadapi pandemi covid-19 yang sudah +_ 100303 teridentifikasi positif. maka sudah seharusnya kita berdoa untuk kebaikan negeri kita agar menjadi negeri yang aman sentosa, selamat dan kembali sehat lahir dan bathin masyarakatnya serta para pemimpinnya diberi petunjuk dan mau menerima petunjuk jalan hidup yang benar agar bisa melaksanakan tugas kepemimpinan dengan benar.

Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.

Prinsip hidup Kedua adalah memiliki semangat berusaha sehingga mau berusaha semaksimal mungkin. Hal ini karena sesulit apapun keadaan, peluang mendapatkan sesuatu tetap terbuka lebar. Siti Hajar telah membuktikan kepada kita betapa ia berusaha mencari rizki meski berada di daerah yang saat itu belum ada kehidupan, inilah yang dalam ibadah haji dan umrah dilambangkan dengan sai yang artinya usaha.

Karena itu, ketika kita sudah berdoa, jangan sampai kita mengkhianati doa kita sendiri. Berdoa minta ilmu tapi tidak mau belajar, berdoa minta anak shaleh tapi tidak mencontohkan keshalehan dan tidak mendidik mereka, berdoa minta sehat tapi mengkonsumsi sesuatu yang mendatangkan penyakit, berdoa minta rizki tapi tidak mau berusaha meraih yang halal, begitulah seterusnya. Ini yang kita maksud dengan mengkhianati doa sendiri.

Jamaah Shalat Id Yang Dirahmati Allah.

Prinsip hidup Ketiga yang harus kita wujudkan sebagaimana telah dimiliki oleh Nabi Ibrahim as dan keluarganya adalah memiliki hati yang bersih dan tajam. Seperti halnya badan dan benda-benda, hati bisa mengalami kekotoran, namun kotornya hati bukanlah dengan debu, hati menjadi kotor bila padanya ada sifat-sifat yang menunjukkan kesukaannya kepada hal-hal yang bernilai dosa, padahal dosa seharusnya dibenci. Oleh karena itu, bila dosa kita sukai apalagi sampai kita lakukan, maka jalan terbaik adalah bertaubat sehingga ia menjadi bersih kembali, Rasulullah saw bersabda:

 

Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak menyandang dosa (HR. Thabrani).

Hati yang bersih akan membuat seseorang menjadi sangat sensitif terhadap dosa, karena dosa adalah kekotoran yang sangat merusak jiwa.

Jamaah Shalat Id Yang Berbahagia.

Keempat yang merupakan prinsip hidup yang kita ambil dari Nabi Ibrahim as dan keluarganya adalah Tidak Menyombongkan diri atas kebaikan yang dilakukannya. Dalam kehidupan manusia, banyak orang baik merasa paling baik, bahkan merasa sebagai satu-satunya orang atau kelompok yang baik. Begitu pula ada orang yang berusaha menjadi orang yang benar tapi merasa sebagai orang yang paling benar atau satu-satunya yang benar. Ini merupakan kesombongan atas kebaikan dan kebenaran yang dipegangnya.

Karena itu, ibadah haji yang sedang dilaksanakan oleh kaum muslimin dari seluruh dunia mengisyaratkan bahwa kita tidak pantas berlaku sombong, termasuk sombong atas kebaikan yang kita lakukan, ini diisyaratkan dengan pakaian ihram yang dikenakan, kain yang sama ketika dikenakan saat membungkus tubuh kita menjelang dikuburkan.

Demikian hikmah (pelajaran) yang sangat berharga dari momentum hari raya Idul Adha ini, yang kembali hadir untuk mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukhuwwah, pengorbanan dan mendahulukan kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Sehingga dapat membentuk insan yang paripurna, lahiriyahnya sehat dan bathiniyahnya beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. Semoga terus lahir pribadi-pribadi dan keluarga Ibrahim berikutnya dari bumi tercinta Indonesia ini yang layak dijadikan contoh teladan dalam setiap kebaikan, pengorbanan dan ketulusan hati untuk seluruh umat manusia.

 Aamin Yaa Robbal ‘Alamin.







KHUTBAH KE-2

 




Rabu, 20 Desember 2023

Review Perangkat Pembelajaran

 

Menjelang semester baru atau Tahun Ajaran Baru, sebagai seorang guru umumnya sudah mempersiapakan rencana pembelajaran yang akan dilakukan selama satu tahun ajaran. Rencana belajar yang sudah disiapkan ini biasa disebut dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran).

RPP sendiri merupakan singkatan dari rencana pelaksanaan pembelajaran yang disiapkan dan dirancang untuk pembelajaran tatap muka, daring dan campuran (kolaborasi/blended learning) untuk satu atau beberapa kali pertemuan. RPP ini dikembangkan dari silabus dengan tujuan untuk mengarahkan kegiatan belajar mengajar dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar (KD). Seorang tenaga pendidik, dalam hal ini guru, pada satuan pendidikan berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis.

Manfaat dari Pembuatan RPP bagi seorang guru, khususnya Guru PAI, yaitu:

1. Pembelajaran lebih sistematis

Adanya RPP ini bisa mengarahkan guru agar merancang sebuah metode pembelajaran yang disenangi siswa. Rancangan metode pembelajaran tersebut sangat memungkinkan dilakukan variasi oleh guru. Jadi, dalam satu materi penyampaian (misal materi teks observasi dalam Bahasa Indonesia), guru bisa merancang metode belajar diskusi dan kerja kelompok.

2. Memudahkan analisis keberhasilan belajar siswa

RPP yang sudah disusun oleh guru, tentunya memiliki butir penilaian yang akan diberikan kepada siswa. Butir penilaian dalam RPP tersebut jika sudah diterapkan ke siswa dan guru bisa melihat nilai yang didapat mereka. Dari nilai tersebut, guru bisa melihat apakah butir penilaian yang ada di dalam RPP sudah dicapai oleh siswa dengan baik atau tidak.

3. Memudahkan penyampaian materi

Dalam hal penyampaian materi, guru sangat dibantu dengan adanya RPP yang telah dibuat. Ini dikarenakan guru bisa memprediksi, dalam sebuah materi itu bisa diselesaikan dalam berapa kali tatap muka, atau bahkan lebih dari itu. Bahkan dapat dilaksanakan secara semi daring / campuran, dan full daring. Jika, ada ketidaksesuaian jumlah tatap muka dalam penyampaian materi di RPP dengan yang ada di kelas, maka guru bisa mencari tahu sekiranya dipoin mana penyampaian materi tersebut berjalan kurang efektif.

4. Pengatur pola pembelajaran

Beberapa materi yang diajarkan tidak semuanya bisa selesai dalam satu kali tatap muka. Ada kalanya guru memerlukan beberapa kali tatap muka untuk menuntaskan satu bahasan materi. Nah, dengan adanya RPP ini guru bisa merancang pola penyampaian materi, misal di tatap muka pertama membahas tentang dasar-dasarnya, baru di tatap muka yang kedua membahas hal yang lebih detail dari materi tersebut

5. Menghemat waktu dan tenaga

Manfaat yang kelima ini pastinya bisa menghemat waktu dan tenaga dari guru. Guru tidak perlu bingung memikirkan model, metode, dan sumber belajar yang sekiranya nanti akan digunakan oleh siswa. Pastinya dengan adanya RPP yang sudah dibuat, guru bisa menentukan apa-apa saja yang dibutuhkan dalam penyampaian materi ajarnya.

Itulah beberapa point mengenai manfaat daripada pembuatan RPP bagi guru, sehingga dengan mengetahui hal tersebut akan semakin menambah semangat, motivasi dan kesungguhan dalam pembuatan RPP yang benar dan tepat, sehingga dapat membantu dalam mewujudkan kesuksesan pada kegiatan pembelajaran.

 

Menurut saya dari beberapa pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki megenai RPP, yaitu; RPP dapat dibuat dan dirangcang tidak hanya untuk pembelajaran TATAP MUKA, namun untuk kondisi yang sekarang ini karena Sekolah diberlakukan belajar di rumah, dan juga PTM terbatas, dan pembatasan jumlah murid atau siswa yang ke sekolah, maka pelaksanaan pembelajaran harus di desain dengan menerapkan pembelajaran berbasis kolaborasi dan full daring, selain pembelajaran tatap muka.

Kamis, 26 Oktober 2023

CAHAYA ILMU

 

 

Anjuran Mencari Ilmu

 

ANJURAN MENCARI ILMU, BELAJAR DAN MENGAJARKANNYA SERTA KEUTAMAAN ILMU, ORANG ‘ALIM DAN ORANG YANG BELAJAR
Rosulullah Saw bersabda, “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Dia akan memberikan kepahaman agama kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Rosulullah Saw bersabda, “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang meletakkan ilmu pada selain yang ahlinya bagaikan menggantungkan permata mutiara dan emas pada babi hutan." (HR. Ibnu Majah dan lainnya)

Mencari ilmu itu wajib bagi setiap orang Islam, pria maupun wanita. Kewajibannya tidak terbatas pada masa remaja, tetapi sampai tua pun kewajiban mencari ilmu tidak pernah berhenti.

Dalam kitab “Ta’limul Muta’allim" disebutkan bahwa ilmu yang wajib dituntut terlebih dahulu adalah “ilmu Haal" yaitu ilmu yang seketika itu pasti digunakan dan diamalkan bagi setiap orang yang sudah baligh. Seperti ilmu Tauhid dan ilmu Fiqih. Di dalam ilmu Tauhid yang harus dipelajari dahulu mengenal ke-Esaan Allah serta sifat-sifat-Nya yang wajib dan muhal, kepercayaan kepada malaikat, kitab-kitab Allah, para Rosul, hari kiamat dan takdir dan buruk adalah dari Allah. Kemudian di dalam ilmu Fiqih yang harus dipelajari berkisar tentang Ubudiyyah dan Muamalah.

Apabila dua bidang ilmu itu telah dikuasai, baru mempelajari ilmu-ilmu lainnya, misalnya ilmu kedokteran, dan ilmu-ilmu yang bermanfaat bagi manusia.

Kadang-kadang orang lupa dalam mendidik anaknya, sehingga lebih mengutamakan ilmu-ilmu umum daripada ilmu agama. Maka anak menjadi orang yang buta agama dan menyepelekan kewajiban-kewajiban agamanya. Dalam hal ini orang tua perlu sekali memberikan bekal ilmu keagamaan sebelum anaknya mempelajari ilmu-ilmu umum yang beraneka ragam macamnya.

Rosulullah Saw bersabda, “Terhadap orang yang mencari ilmu, malaikat membentangkan sayap-sayapnya untuknya karena rela terhadap apa yang dicari." (HR. Ibnu Asakir)

Rosulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang kedatangan ajal, sedang ia masih menuntut ilmu, maka ia akan bertemu dengan Allah di mana tidak ada jarak antara dia dan antara para nabi kecuali satu derajat kenabian." (HR. Thabrani)

Mencari ilmu adalah amal yang mulia dan terpuji. Khususnya ilmu agama Islam. Sebab, dengan menekuni ilmu-ilmu agama, berarti dia telah merintis jalan untuk mencari ridho Allah. Dengan ilmu itu ia dapat menghindari larangan-larangan Allah dan menjalankan perintah-Nya. Karena itulah para malaikat selalu melindungi orang-orang yang sedang menuntut ilmu. Dan kelak di hadapan Allah mereka mendapat kemuliaan yang hanya terpaut satu derajat dengan para nabi.

Rosulullah Saw bersabda, “Dunia itu dilaknat, dan dilaknat pula apa yang ada di dalamnya kecuali zikir (ingat) kepada Allah beserta apa-apa yang mengikutinya, orang ‘alim dan orang yang belajar." (HR. Turmudzi)

Rosulullah Saw bersabda, “Sedekah yang paling utama adalah orang Islam yang belajar suatu ilmu kemudian diajarkan ilmu itu kepada orang lain." (HR. Ibnu Majah)

Dunia beserta isinya dilaknat oleh Allah kecuali zikir kepada-Nya dan amalan-amalan yang bisa membuat orang ingat kepada-Nya, orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu. Lebih utama lagi orang yang mau menuntut ilmu kemudian ilmu itu diajarkan kepada orang lain. Inilah sedekah yang paling utama dibanding sedekah harta benda. Mengapa demikian? Karena mengajarkan ilmu, khususnya ilmu agama, berarti menanam amal yang muta’addi (dapat berkembang) yang manfaatnya bukan hanya dikenyam orang yang diajarkan itu sendiri, tetapi dapat dinikmati orang lain.

Rosulullah Saw bersabda, “Ilmu itu lebih utama dari pada ibadah, sedang sebaik- baik agama adalah sifat waro'" (HR. Thabrani)

Waro' ialah menjauhkan diri dari dosa, barang syubhat dan maksiat. Sedang barang syubhat ialah barang yang masih diragukan halal dan haramnya. Hanya orang-orang yang berilmulah kiranya yang dapat menjalankan ibadah dengan baik dan sempurna serta berlaku waro' dalam segala perilakunya.

Abi Umamah berkata, “Ditunjukkan kepada Rosulullah Saw dua orang laki-laki, salah satu dari keduanya ahli ibadah sedang yang lain orang ‘alim." Maka Rosulullah Saw bersabda, “Keutamaan orang ‘alim dibanding dengan orang ahli ibadah seperti keutamaanku terhadap orang yang paling rendah dari kalian. Rosulullah melanjutkan, “Sesungguhnya Allah, malaikat-Nya serta penghuni langit dan bumi hingga semut yang ada di liangnya sampai kepada jenis ikan, semuanya mendo’akan orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. Thurmuzdi)

Yang dimaksud orang ‘alim, adalah orang ‘alim yang mau mengamalkan ilmunya, sedang orang yang ahli ibadah, adalah orang yang tekun beribadah tetapi bodoh, jadi orang ‘alim yang mengamalkan ilmunya itu lebih utama dari pada orang bodoh yang ahli ibadah.

Rosulullah Saw bersabda, “Allah tidaklah disembah dengan sesuatu yang lebih utama dari pada kepahaman agama. Dan sungguh satu orang yang paham dalam agama itu lebih berat bagi setan dari pada seribu orang ahli ibadah. Dan setiap sesuatu itu ada tiangnya, sedang tiangnya agama ini adalah fiqih (paham)." (HR. Daruquthni)


Narasumber: Kitab “At-Targhiib Wat-Tarhiib"

Kamis, 19 Oktober 2023

FIQIH IBADAH

 

Konsultasi : Ibadah

Berkurban (1)

 

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pak Ustadz, saya mau bertanya tentang wajib korban, karena dari beberapa informasi yang saya terima, malah membuat saya bingung.

Pertanyaan saya : Dalam sebuah keluarga siapakah yang kena wajib korban?

a. apakah hanya kepala rumah tangga saja (bapak yang memberi nafkah bagi keluarga tersebut).

b. atau harus sebanyak jumlah jiwa dalam keluarga tadi yaitu suami, istri dan setiap anak.

c. kalau jawabannya poin a mohon penjelasannya, begitu juga bila jawabannya poin b.

d. berkaitan dengan poin b (bila memang harus seperti itu tentang wajib korban), apakah dalam melaksanakan korban bisa digilir secara bergantian mulai dari suami hingga ke anak? (sesuai dengan kemampuan keuangan). Untuk penjelasannya saya ucapkan terima kasih.


Wassalamu'alaikum Wr. Wb.


Adi Soenarko
Jawab:

Mas Adi, kurban itu hukumnya sunah. Tidak wajib. Kurban disunahkan bagi siapa saja orang muslim, yang mampu, mukallaf (baligh dan berakal), dan tidak dalam keadaan haji.

Dalam prakteknya, kebanyakan yang melaksanakan adalah kepala rumah tangga. Itu karena, kebanyakan, ia yang mempunyai pemasukan keuangan.

Jadi, kalaupun kepala rumah tangganya sudah berkurban, ia tetap disunahkan untuk berkurban mewakili anggota keluarganya.

Tapi itu tak menutup kemungkinan jika si istri, misal, punya uang sendiri untuk membeli kambing, ya silahkan saja. Demikian juga, misalnya ada salah seorang anaknya yang mampu membeli kambing sendiri, ya tak apa-apa.

Kalau misalnya, anggota keluarganya 8 orang, sementara ia baru mampu membeli 2 ekor kambing, ya kurbannya untuk 2 orang dulu. Yang belum kebagian, kurbannya tahun-tahun berikutnya. Bergantian.

Atau, misal saja, keluarganya cuma 3 orang, kaya raya, tiap tahun bisa berkurban, juga tak apa-apa. Mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa kurban itu disunahkan tiap tahun.

Bisa juga dalam berkurban, kalau sulit/tidak menemukan kambing, bergabung dengan orang lain untuk membeli sapi. Seekor untuk bertujuh. Jadi, kalau satu ekor kambing itu untuk satu orang, satu ekor sapi untuk 7 orang. Demikian, Wallahua'lam bisshawaab.

Wassalamualaikum Wr. Wb.

Arif Hidayat
pesantrenvirtual.com

Rabu, 18 Oktober 2023

KISAH





Bibit Kebaikan

 

Nabi Musa ‘alaihis salam bermunajat kepada Allah, seraya berkata:

“Ya Allah, sungguh Engkau telah menitahkan makhluk dengan curahan nikmat dan rahmat. Tapi, kelak makhluk bernama manusia Engkau masukkan ke dalam neraka. Mengapa demikian?

Allah segera menurunkan jawaban kepada Musa: “Hai Musa, berdiri dan bangkitlah. Tanamlah tanaman, dan peliharalah dengan baik tanamanmu hingga tiba waktu memetik hasil. Setelah engkau memetik hasil, terus engkau apakan hasil itu?”

Jawab Musa: “Ya Allah, lebih dahulu aku pisahkan, mana yang baik dan mana yang kosong tak berisi. Yang baik aku simpan dan yang kosong aku buang.”

Allah kemudian menegaskan: “Ya Musa, sungguh yang Aku masukkan neraka adalah orang-orang yang sama sekali tidak memiliki kebaikan.”

Musa kembali bertanya: “Ya Allah, siapakah orang-orang yang sama sekali tidak memiliki kebaikan itu?” Jawab Allah: “Mereka adalah orang-orang yang merasa berat mengucapkan kalimah: “Laa Ilaaha Illallaah, Muhammad rasuulullaah.”

Demikian Imam Zahid menceritakan sebuah kisah bersumber dari ayahnya.

Sumber : buku “Muslimah dan Bidadari”, Kh A. Mudjab Mahali
Penerbit: Mitra Pustaka,
ditulis kembali oleh Ade Anita.


sumber : pesantrenonline.com

Senin, 05 Juni 2023

Kata Bijak Ki Hajar Dewantara

 “Serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang keadaan kayu, jenis-jenisnya, keindahan ukiran, dan cara-cara mengukirnya. Seperti itulah seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik, Bedanya, Guru mengukir manusia yang memiliki hidup lahir dan batin.” 




Selasa, 01 November 2022

REFLEKSI

 

“Pendidikan yang berpihak pada Murid”

 

 

Engkau coba bisikan kebenaran

Engkau rangkai kata penuh keberanian

Engkau berikan makna pengetahuan

Engkau ajarkan hakikat didikan

Engkau pancarkan sinar kemuliaan

Jiwa sang penuntun akan kebaikan

 

--------

Sutarjo

05 September 2022

Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

 

Setelah memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan dan pengajaran, dapt disimpulkan bahwa pengajaran merupakan suatu proses dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir maupun bathin serta merupakan bagian dari Pendidikan itu sendiri. Sedangkan Pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Sebagai seorang guru biasanya melaksanakan tugas hanya mengajar dan menyampaikan ilmu pengetahuan, setelah itu dilakukan tes atau ujian untuk mengukur sejauh mana para murid memahami dan mencapai hasil pembelajaran yang telah diikuti Bersama teman dan gurunya. Ketercapaian pembelajaran seringkali hanya diukur dari segi pengetahuan (kognitif) nya saja, hal ini dibuktikan dengan persentasi yang paling besar menjadi perhatian dan parameter yang digunakan adalah Ujian Teori Kognitif, sedangkan porsi untuk Keterampiran (Psiokomotorik) dan SIkap (Afektif) mendapat porsi pendukung atau tambahan penunjang dalam proses pembelajaran yang berlangsung dan yang terlaksana.

Pada kesempatan kali ini adanya perubahan mindset (pola pikir) yang diperoleh setelah mempelajari, mendalami, mengkaji, dan merefleksi tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai definisi pembelajaran dan Pendidikan, dasar-dasar Pendidikan, tujuan Pendidikan, mengenalkan konsep kodrat keadaaan, pengenalan konsep bermain dalam belajar, pembelajaran yang memerdekakan, dan mengajarkan semboyan jiwa Pendidikan nasional ; ingarso sing tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

Adanya perubahan dalam diri yang dirasakan baik pada aspek pemahaman (ilmu pengetahuan tentang Pendidikan), maupun sikap prilaku (perubahan dalam mengajar dan mendidik) dari hasil pendalaman modul tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara melalui proses kegiatan berpikir-kritis dan menerapkan relevansinya dengan sosio-kultur di daerah tempat tinggal.

Dampak yang dirasakan oleh diri sendiri yang kemudian menjadi imbas dari refleksi pemikiran ini adalah terjadinya perubahan dan tindakan yang dilaksanakan dalam proses kegiatan pembelajaran dan pendidikan yang menuntun selama di kelas maupun ruang lingkup sekolah. Hasil refleksi berpikir-kritis pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang langsung diterapkan adalah sebagai berikut:

1. Pemahaman yang timbul dan terbaru mengenai perbedaan konsep pembelajaran dan Pendidikan, menjadi kesenangan dan kebahagiaan dalam diri sendiri yang menyebabkan semakin tergugah dan menjiwai peran dan visi sebagai sosok guru yang dapat menuntun dan memberikan sesuatu Pendidikan  yang bermakna pada muridnya.

2. Perubahan yang meningkat dalam aspek berpikir refleksi sesuai dengan yang telah dipahami dari komsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, serta menambah wawasan dalam menentukan strategi dan metodologi yang tepat serta sesuai untuk digunakan terhadap murid menurut kodratnya yang telah di gariskan Tuhan. Hal tersebut diharapkan dapat senantiasa dikembangkan oleh guru melalui kegiatan membaca dan menganalisis serta menyesuaikan metode dengan situasi dan kondisi kodrat alam dan kodrat zaman yang dimiliki oleh murid. Dengan demikian secara tepat dan efektif dapat berkembang, berubah, mandiri dan merdeka dalam capaian kompetensi yang dituntaskan oleh para murid dalam pembelajarannya.

Sabtu, 10 September 2022

Tugas C. Guru Penggerak

 Artikel

“Pendidikan yang berpihak pada Murid”

 

Engkau coba bisikan kebenaran

Engkau rangkai kata penuh keberanian

Engkau berikan makna pengetahuan

Engkau ajarkan hakikat didikan

Engkau pancarkan sinar kemuliaan

Jiwa sang penuntun akan kebaikan

--------

Sutarjo

05 September 2022

Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara

 

Setelah memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan dan pengajaran, dapat disimpulkan bahwa pengajaran merupakan suatu proses dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir maupun bathin serta merupakan bagian dari Pendidikan itu sendiri. Sedangkan Pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

Sebagai seorang guru biasanya melaksanakan tugas hanya mengajar dan menyampaikan ilmu pengetahuan, setelah itu dilakukan tes atau ujian untuk mengukur sejauh mana para murid memahami dan mencapai hasil pembelajaran yang telah diikuti Bersama teman dan gurunya. Ketercapaian pembelajaran seringkali hanya diukur dari segi pengetahuan (kognitif) nya saja, hal ini dibuktikan dengan persentasi yang paling besar menjadi perhatian dan parameter yang digunakan adalah Ujian Teori Kognitif, sedangkan porsi untuk Keterampiran (Psiokomotorik) dan SIkap (Afektif) mendapat porsi pendukung atau tambahan penunjang dalam proses pembelajaran yang berlangsung dan yang terlaksana.

Pada kesempatan kali ini adanya perubahan mindset (pola pikir) yang diperoleh setelah mempelajari, mendalami, mengkaji, dan merefleksi tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai definisi pembelajaran dan Pendidikan, dasar-dasar Pendidikan, tujuan Pendidikan, mengenalkan konsep kodrat keadaaan, pengenalan konsep bermain dalam belajar, pembelajaran yang memerdekakan, dan mengajarkan semboyan jiwa Pendidikan nasional ; ingarso sing tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani.

Adanya perubahan dalam diri yang dirasakan baik pada aspek pemahaman (ilmu pengetahuan tentang Pendidikan), maupun sikap prilaku (perubahan dalam mengajar dan mendidik) dari hasil pendalaman modul tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara melalui proses kegiatan berpikir-kritis dan menerapkan relevansinya dengan sosio-kultur di daerah tempat tinggal.

Dampak yang dirasakan oleh diri sendiri yang kemudian menjadi imbas dari refleksi pemikiran ini adalah terjadinya perubahan dan tindakan yang dilaksanakan dalam proses kegiatan pembelajaran dan pendidikan yang menuntun selama di kelas maupun ruang lingkup sekolah. Hasil refleksi berpikir-kritis pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang langsung diterapkan adalah sebagai berikut:

1. Pemahaman yang timbul dan terbaru mengenai perbedaan konsep pembelajaran dan Pendidikan, menjadi kesenangan dan kebahagiaan dalam diri sendiri yang menyebabkan semakin tergugah dan menjiwai peran dan visi sebagai sosok guru yang dapat menuntun dan memberikan sesuatu Pendidikan  yang bermakna pada muridnya.

2. Perubahan yang meningkat dalam aspek berpikir refleksi sesuai dengan yang telah dipahami dari komsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, serta menambah wawasan dalam menentukan strategi dan metodologi yang tepat serta sesuai untuk digunakan terhadap murid menurut kodratnya yang telah di gariskan Tuhan. Hal tersebut diharapkan dapat senantiasa dikembangkan oleh guru melalui kegiatan membaca dan menganalisis serta menyesuaikan metode dengan situasi dan kondisi kodrat alam dan kodrat zaman yang dimiliki oleh murid. Dengan demikian secara tepat dan efektif dapat berkembang, berubah, mandiri dan merdeka dalam capaian kompetensi yang dituntaskan oleh para murid dalam pembelajarannya.

3. Sebagai guru yang menerapkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, maka dikatakan bahwa dapat menemukan Pendekatan dan model pembelajaran atau pedidikan yang dapat memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, membahagiakan, memerdekakan dan memberikan perubahan yang signifikan terhadap diri murid sebagai individu maupun masyarakat.

4. Setelah dikenalkan dan diberikan analogi terkait tugas dan tanggungjawab seorang guru bagaikan seorang petani yang sedang berladang, perumpamaan tersebut digambarkan dengan sangat kontras bagaimana perhatian, keseriusan, kesungguhan, tekad dan perjuangan serta kerja keras dalam bekerja haruslan memiliki target atau tujuan sesuai dengan kodratnya. Oleh karena itu seorang guru juga harus dapat merencanakan, menyiapkan, melaksanakan pembelajaran dan pendidikan yang menuntun serta berpusat pada murid, sehingga dapat mewujudkan pendidikan yang menghasilkan murid yang selamat dan bahagia serta merdeka dan mandiri dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai manusia individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Dari semua hal yang telah disampaikan di atas, kemudian menjadi rencana dan tindakan yang harus dilaksanakan dan diterapkan dalam pembelajaran kongkrit di kelas dan di sekolan. Pengajaran dan Pendidikan yang dapat menuntun anak didiknya dalam mengembangkan bakat, minat, dan potensi dirinya agar tumbuh kembang sesuai kodratnya. Dengan demikian akan dihasilkan manusia-manusia yang mulia dan berbudi luhur yang dapat bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, masyarakat dan bangsa Indonesia.

Situasi para murid dan suasana lingkungan belajar yang diharapkan setelah memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah: 1) memiliki pola pikir yang terbuka, teliti, kritis dan cerdas dalam memahami perjalanan hidup. 2) anak didik yang mampu bersaing dengan minat, bakat dan keahlian yang telah dimiliki, dilatih dan diasah di sekolah menjadi modal dalam mensejahterkan hidupnya sehari-hari. 3) para murid yang senantiasa merasa senang, bahagia dan terus konsisten dalam belajar dan melatih dirinya dalam aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap budi pekerti yang baik dalam setiap waktu dan perjalanan hidupnya.

Kemudian materi dan metode yang akan digunakan untuk mewujudkan pembelajaran yang menuntun atau berpusat pada murid adalah dengan mengenalkan dan memperdalam; 1) Konsep Diri, 2) Potensi Diri setiap Manusia, 3) Peluang kesuksesan dan keberhasilan setiap insan dengan pendidikan yang berkualitas, serta 4) manfaat dari semua materi yang diajarkan harus dapat dirasakan oleh murid, orang tua, guru dan masyarakat sekitarnya. Dengan metode silih asah silih asih dan silih asuh, dengan menggunakan asas gotong royong dalam menciptakan suasana belajar yang merdeka, merubah, dan mandiri baik di kelas maupun lingkup sekolah.

Rabu, 25 Mei 2022

Nasehat Bijak




Segeralah Terangi Kegelapan

“siapa yang bisa menandingimu wahai anak cucu Adam dalam hal bertaubat? Engkau bisa datang ke mihrab kapanpun engkau mau, untuk menghadap Tuhanmu. Tak ada apapun yang membatasi antara dirimu dan Tuhanmu. Tak ada perantara, tak ada penterjemah”.

(Bakar bin Abdillah Al Muzani)

 

Jangan Pernah Kalah

“bersungguh-sungguhlah dengan kehinaan-mu, niscaya ia menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, niscaya ia menolongmu dengan kekuasaan-Nya. bersungguh-sungguhlah dengan kelemahanmu, niscaya ia menolongmu dengan kekuatan-Nya”.

(Ibnu ‘Athaillah)

 

Kelemahanku, Sumber Kekuatanku

“suplai bantuan Allah, tidak berlaku bagi orang yang dikuasai oleh hawa nafsu dan mengikuti syahwatnya”.

(Fudhail bin Iyadh)

 

Antara Mata dan Hati

“hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya”.

(Ibnul Qayyim)

 

Khusyu’

“barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan  menyempurnakan hubungan-Nya dengan orang tersebut”.

(HR. Hakim)

 

Pilih Yang Paling Berat 

“jika kabur bagimu dua perkara, maka perhatikanlah salah satu dari keduanya yang paling terasa berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia. Karena tidak ada sesuatu yang terasa berat bagi nafsu kecuali sesuatu itu yang benar”.

(Ibnu ‘Athoillah)

 

Ya Allah, Kenalkan Aku dengan Diriku

“barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain”.

(Ibnul Qoyyim)


Sepucuk Nasehat

Sepucuk Nasehat
Nasehatilah diri sebelum usia terlanjur terhenti, karena penyesalan amatlah pahit dan menakutkan