Bukan karena diri sendiri engkau sholeh, taat, tawadhu dan taqwa. namun karena Rahmat Alloh SWT seorang manusia bisa memiliki semua itu. (Sutarjo)
Kamis, 25 Januari 2024
Rabu, 24 Januari 2024
RESUME PENDIDIKAN
RESUME / CATATAN KECIL
PART 1
Pendidikan yaitu: menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Anak-anak itu sebagai makhluk, manusia, dan benda hidup, sehingga mereka hidup dan tumbuh menurut kodratnya sendiri.
Meskpun pendidikan itu hanya ‘tuntunan’ saja di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, tetapi perlu juga Pendidikan itu berhubungan dengan kodrat keadaan dan keadaannya setiap anak.
Mengenai dasar jiwa yang dimiliki anak-anak itu, terdapat tiga aliran yang berhubungan dengan soal daya Pendidikan.
1. Aliran Teori Rasa
2. Aliran Negative
3. Aliran yang terkenal dengan nama convergentie-theorie
Pendidikan yang teratur yaitu pendidikan yang berdasarkan pada pengetahuan, yang dinamakan “Ilmu Pendidikan”. Ilmu ini tidak berdiri sendiri, akan tetapi masih berhubungan ilmu-ilmu lainnya, yang dinamakan ilmu syarat-syarat pendidikan (hulpwetenschappen), yang terbagi menjajdi 5 jenis, yaitu:
1. Ilmu hidup batin manusia (ilmu jiwa, psychologie);
2. Ilmu hidup jasmani manusia (fysiologie);
3. Ilmu keadaan atau kesopanan (etika atau moral);
4. Ilmu keindahan atau ketertiban-lahir (estetika);
5. Ilmu tambo Pendidikan (ikhtisar cara-cara Pendidikan)
Peralatan Pendidikan
Yang dimaksud dengan ‘peralatan’ adalah alat-alat pokok, yakni caracara mendidik. Perlu diketahui bahwa cara-cara mendidik beragam banyaknya, akan tetapi pada dasarnya cara tersebut dapat dibagi seperti berikut:
1. Memberi contoh (voorbeld);
2. Pembiasaan (pakulinan, gewoontervorming)
3. Pengajaran (wulang-wuruk, leering)
4. Perintah, paksaan dan hukuman (regearing en tucht);
5. Tindakan (laku, zelfberheersching, zelfdiscipline);
6. Pengalaman lahir dan batin (nglakoni, ngrasa, beleving).
Cara-cara tersebut tidak perlu dilakukan semuanya, bahkan ada kaum pendidik yang tidak sepakat dengan salah satu cara. Misalnya, para pendidik dari pihak vrije opvoeding (Pendidikan bebas), tidak suka memakai alat nomor 4 (perintah, paksaan, hukuman). Seringkali pendidik menggunakan salah satu cara saja dan pada umumnya disesuaikan dengan keadaankeadaan tertentu, misalnya disesuaikan dengan umur anak-anak didik.
(Dikutip dari modul CGP)
Rabu, 17 Januari 2024
Yuuk ah kita meneladani Rasul
Dari Sa’id bahwasanya Sa’ad mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu bertanya,
“Sedekah apa yang paling engkau
sukai.” Jawab beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sedekah air.”
Senin, 08 Januari 2024
Khutbah Idul Adha
KHUTBAH KE-1
Momentum Hari
Raya Qurban
Hadirin
jamaah sholat idul adha rahimakumulloh.
Seluruh puji dan puja hanyalah milik
Allah swt yang telah menciptakan alam semesta beserta isinya dengan sempurna
dan luarbiasa.
Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw
beserta keluarga, sahabat dan para penerusnya hingga hari kiamat nanti. Aamin.
Kemuliaan dan kasih sayang Alloh SWT sekali lagi masih diberikan kepada kita semua untuk menikmati dan melaksanakan ibadah shalat Idul Adha, takbir, tahmid dan tahlil kembali menggema di seluruh muka bumi ini sekaligus menyertai saudara-saudara kita yang datang menunaikan panggilan agung ke tanah suci guna menunaikan ibadah haji, sebagai rukun Islam yang kelima.
Allahu Akbar 3x Allahu Akbar Wa lillahil-hamd
Hari raya Idul Adha merupakan hari
raya istimewa dikarenakan dua ibadah agung dilaksanakan pada hari raya ini,
yaitu ibadah haji dan ibadah qurban.
Ibadah qurban tahunan yang umat
Islam laksanakan adalah bentuk i’tibar atau pengambilan pelajaran dari kisah Nabi
Ibrahim dan Nabi Ismail. Setidaknya ada tiga pesan umum yang bisa kita tarik
dari kisah tersebut:
1.
Pertama, Tentang totalitas
kepatuhan kepada Allah subhânau wata’âla. Nabi Ibrahim yang mendapat julukan
“khalilullah” (kekasih Allah) mendapat ujian berat pada saat rasa bahagianya
meluap-luap dengan kehadiran sang buah hati di dalam rumah tangganya. Lewat
perintah menyembelih Ismail, Allah seolah hendak mengingatkan Nabi Ibrahim bahwa
anak hanyalah titipan. Anak betapapun mahalnya kita menilai tak boleh
melengahkan kita bahwa hanya Allahlah tujuan akhir dari rasa cinta dan
ketaatan.
Nabi Ibrahim lolos dari ujian ini. Ia membuktikan
bahwa dirinya sanggup mengalahkan egonya untuk tujuan mempertahankan
nilai-nilai Ilahi. Dengan penuh ketulusan, Nabi Ibrahim menapaki jalan
pendekatan diri kepada Allah sebagaimana makna qurban, yakni pendekatan
diri.
Sementara Nabi Ismail, meski usianya masih belia, mampu membuktikan diri sebagai anak berbakti dan patuh kepada perintah Tuhannya. Yang menarik, ayahnya menyampaikan perintah tersebut dengan memohon pendapatnya terlebih dahulu, dengan tutur kata yang halus, tanpa unsur paksaan. Atas dasar kesalehan dan kesabaran yang ia miliki, ia pun memenuhi panggilan Tuhannya.
Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh,
2.
Pelajaran kedua adalah tentang
kemuliaan manusia. Dalam kisah itu di satu sisi kita diingatkan untuk jangan
menganggap mahal sesuatu bila itu untuk mempertahankan nilai-nilai ketuhanan,
namun di sisi lain kita juga dihimbau untuk tidak meremehkan nyawa dan darah manusia.
Penggantian Nabi Ismail dengan domba besar adalah pesan nyata bahwa pengorbanan
dalam bentuk tubuh manusia adalah hal yang diharamkan.
Manusia dengan manusia lain sesungguhnya adalah saudara. Mereka dilahirkan dari satu bapak, yakni Nabi Adam ‘alaihissalâm. Seluruh manusia ibarat satu tubuh yang diciptakan Allah dalam kemuliaan. Karena itu membunuh atau menyakiti satu manusia ibarat membunuh manusia atau menyakiti manusia secara keseluruhan. Larangan mengorbankan manusia sebetulnya penegasan kembali tentang luhurnya kemanusiaan di mata Islam dan karenanya mesti dijamin hak-haknya.
3.
Pelajaran yang ketiga yang bisa kita ambil
adalah tentang hakikat pengorbanan. Sedekah daging hewan qurban hanyalah simbol dari makna korban yang sejatinya sangat luas,
meliputi pengorbanan dalam wujud harta benda, tenaga, pikiran, waktu, dan lain
sebagainya.
Berqurban memiliki makna mulia jika hakikat berqurban itu dapat kita
pahami dengan baik. Berqurban bukanlah sekadar ritual tanpa makna, atau teradisi tanpa arti. Berqurban,
harus mampu menggugah perasaan pelakunya untuk menghayati apa yang tersirat dan
tersurat dari pelaksanaan ritual tersebut.
Rasa suka cita yang dialami oleh keluarga Nabi Ibrahim as. untuk
berkorban dilandasi atas pemahaman yang benar tentang nilai-nilai kehidupan.
Mereka menyadari
sepenuhnya bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini: anak, isteri, harta,
pangkat dan jabatan semuanya datang dari Allah dan pasti akan kembali kepada
Allah. Oleh sebab itu, bagaimana pun modelnya perintah Allah harus dilaksanakan
sebaik-baiknya tanpa melihat untung dan rugi, enak tidak enak, mudah
dan sulit, maupun berat dan ringannya.
Kita selaku generasi masa kini telah berhutang budi kepada
generasi-genersai sebelumnya dalam seluruh apa yang kita ni`mati saat ini
sebagai hasil dari pengorbanan, perjuangan dan sikap mereka yang mendahulukan
kepentingan orang lain. Maka sepatutnyalah jika kita melanjutkan rangkaian
pengorbanan mereka itu sehingga kita dapat menyampaikan keni`matan ini kepada
generasi berikutnya seperti yang telah dilakukan oleh generasi sebelum kita.
Kaum Muslimin Yang Berbahagia.
Dalam kehidupan ini, ada banyak
sekali prinsip-prinsip hidup yang harus kita jalani dan kita pegang teguh.
Belajar dari kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya, pada kesempatan ini
paling tidak, ada empat prinsip hidup yang harus kita wujudkan dalam kehidupan
kita, baik secara pribadi, keluarga maupun masyarakat dan bangsa.
Pertama, berdoa. Salah satu yang amat
penting untuk kita lakukan dalam hidup ini adalah berdoa kepada Allah swt. Do’a
bukan hanya menunjukkan kita merendahkan diri kepada Allah, tapi memang kita
merasa betul-betul memerlukan bantuan dan pertolongan-Nya, karena Allah adalah
segala-galanya, sedangkan kita amat memerlukan dan tergantung kepada-Nya. Diantara
doa Nabi Ibrahim as adalah agar negeri yang ditempati diri dan keluarganya
dalam keadaan aman . Allah swt berfirman menceritakan doa Nabi Ibrahim as:
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim
berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan
jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. (QS
Ibrahim [14]:35).
Dalam konteks kehidupan negara kita
yang mengalami krisis, apalagi saat ini kita masih sedang
menghadapi pandemi covid-19 yang sudah +_ 100303 teridentifikasi positif. maka sudah seharusnya kita berdoa
untuk kebaikan negeri kita agar menjadi negeri yang aman sentosa, selamat dan kembali sehat lahir dan bathin masyarakatnya serta para pemimpinnya diberi petunjuk dan mau menerima
petunjuk jalan hidup yang benar agar bisa melaksanakan tugas kepemimpinan
dengan benar.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.
Prinsip hidup Kedua
adalah memiliki semangat berusaha sehingga mau berusaha semaksimal mungkin. Hal
ini karena sesulit apapun keadaan, peluang mendapatkan sesuatu tetap terbuka
lebar. Siti Hajar telah membuktikan kepada kita betapa ia berusaha mencari
rizki meski berada di daerah yang saat itu belum ada kehidupan, inilah yang
dalam ibadah haji dan umrah dilambangkan dengan sai yang artinya usaha.
Karena itu, ketika kita sudah berdoa, jangan sampai kita mengkhianati doa kita sendiri. Berdoa minta ilmu tapi tidak mau belajar, berdoa minta anak shaleh tapi tidak mencontohkan keshalehan dan tidak mendidik mereka, berdoa minta sehat tapi mengkonsumsi sesuatu yang mendatangkan penyakit, berdoa minta rizki tapi tidak mau berusaha meraih yang halal, begitulah seterusnya. Ini yang kita maksud dengan mengkhianati doa sendiri.
Jamaah Shalat Id Yang Dirahmati
Allah.
Prinsip hidup Ketiga yang harus kita wujudkan sebagaimana telah dimiliki oleh Nabi Ibrahim as dan keluarganya adalah memiliki hati yang bersih dan tajam. Seperti halnya badan dan benda-benda, hati bisa mengalami kekotoran, namun kotornya hati bukanlah dengan debu, hati menjadi kotor bila padanya ada sifat-sifat yang menunjukkan kesukaannya kepada hal-hal yang bernilai dosa, padahal dosa seharusnya dibenci. Oleh karena itu, bila dosa kita sukai apalagi sampai kita lakukan, maka jalan terbaik adalah bertaubat sehingga ia menjadi bersih kembali, Rasulullah saw bersabda:
Orang yang bertaubat dari dosanya
seperti orang yang tidak menyandang dosa (HR. Thabrani).
Hati yang bersih akan membuat
seseorang menjadi sangat sensitif terhadap dosa, karena dosa adalah kekotoran
yang sangat merusak jiwa.
Jamaah Shalat Id Yang Berbahagia.
Keempat yang merupakan prinsip hidup yang
kita ambil dari Nabi Ibrahim as dan keluarganya adalah Tidak Menyombongkan diri
atas kebaikan yang dilakukannya. Dalam kehidupan manusia, banyak orang baik
merasa paling baik, bahkan merasa sebagai satu-satunya orang atau kelompok yang
baik. Begitu pula ada orang yang berusaha menjadi orang yang benar tapi merasa
sebagai orang yang paling benar atau satu-satunya yang benar. Ini merupakan
kesombongan atas kebaikan dan kebenaran yang dipegangnya.
Karena itu, ibadah haji yang sedang
dilaksanakan oleh kaum muslimin dari seluruh dunia mengisyaratkan bahwa kita
tidak pantas berlaku sombong, termasuk sombong atas kebaikan yang kita lakukan,
ini diisyaratkan dengan pakaian ihram yang dikenakan, kain yang sama ketika
dikenakan saat membungkus tubuh kita menjelang dikuburkan.
Demikian hikmah (pelajaran) yang
sangat berharga dari momentum hari raya Idul Adha ini, yang kembali hadir untuk
mengingatkan kita akan ketinggian nilai ibadah haji dan ibadah qurban yang
sarat dengan pelajaran kesetiakawanan, ukhuwwah, pengorbanan dan mendahulukan
kepentingan dan kemaslahatan orang lain. Sehingga dapat membentuk insan yang
paripurna, lahiriyahnya sehat dan bathiniyahnya beriman dan bertaqwa kepada
Allah SWT. Semoga terus lahir pribadi-pribadi dan keluarga Ibrahim berikutnya
dari bumi tercinta Indonesia ini yang layak dijadikan contoh teladan dalam
setiap kebaikan, pengorbanan dan ketulusan hati untuk seluruh umat manusia.
Aamin Yaa
Robbal ‘Alamin.
KHUTBAH KE-2
Rabu, 20 Desember 2023
Review Perangkat Pembelajaran
Menjelang semester baru atau Tahun
Ajaran Baru, sebagai seorang guru umumnya sudah mempersiapakan rencana
pembelajaran yang akan dilakukan selama satu tahun ajaran. Rencana belajar yang
sudah disiapkan ini biasa disebut dengan RPP (Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran).
RPP sendiri merupakan singkatan dari rencana
pelaksanaan pembelajaran yang disiapkan dan dirancang untuk pembelajaran tatap
muka, daring dan campuran (kolaborasi/blended learning) untuk satu atau
beberapa kali pertemuan. RPP ini dikembangkan dari silabus dengan tujuan untuk
mengarahkan kegiatan belajar mengajar dalam upaya mencapai Kompetensi Dasar
(KD). Seorang tenaga pendidik, dalam hal ini guru, pada satuan pendidikan
berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis.
Manfaat dari Pembuatan RPP bagi seorang
guru, khususnya Guru PAI, yaitu:
1. Pembelajaran lebih
sistematis
Adanya RPP ini bisa mengarahkan guru
agar merancang sebuah metode pembelajaran yang disenangi siswa. Rancangan
metode pembelajaran tersebut sangat memungkinkan dilakukan variasi oleh guru.
Jadi, dalam satu materi penyampaian (misal materi teks observasi dalam Bahasa
Indonesia), guru bisa merancang metode belajar diskusi dan kerja kelompok.
2. Memudahkan
analisis keberhasilan belajar siswa
RPP yang sudah disusun oleh guru,
tentunya memiliki butir penilaian yang akan diberikan kepada siswa. Butir
penilaian dalam RPP tersebut jika sudah diterapkan ke siswa dan guru bisa
melihat nilai yang didapat mereka. Dari nilai tersebut, guru bisa melihat
apakah butir penilaian yang ada di dalam RPP sudah dicapai oleh siswa dengan
baik atau tidak.
3. Memudahkan
penyampaian materi
Dalam hal penyampaian materi, guru
sangat dibantu dengan adanya RPP yang telah dibuat. Ini dikarenakan guru bisa
memprediksi, dalam sebuah materi itu bisa diselesaikan dalam berapa kali tatap
muka, atau bahkan lebih dari itu. Bahkan dapat dilaksanakan secara semi daring
/ campuran, dan full daring. Jika, ada ketidaksesuaian jumlah tatap muka dalam
penyampaian materi di RPP dengan yang ada di kelas, maka guru bisa mencari tahu
sekiranya dipoin mana penyampaian materi tersebut berjalan kurang efektif.
4. Pengatur pola
pembelajaran
Beberapa materi yang diajarkan tidak
semuanya bisa selesai dalam satu kali tatap muka. Ada kalanya guru memerlukan
beberapa kali tatap muka untuk menuntaskan satu bahasan materi. Nah, dengan
adanya RPP ini guru bisa merancang pola penyampaian materi, misal di tatap muka
pertama membahas tentang dasar-dasarnya, baru di tatap muka yang kedua membahas
hal yang lebih detail dari materi tersebut
5. Menghemat waktu
dan tenaga
Manfaat yang kelima ini pastinya bisa
menghemat waktu dan tenaga dari guru. Guru tidak perlu bingung memikirkan
model, metode, dan sumber belajar yang sekiranya nanti akan digunakan oleh
siswa. Pastinya dengan adanya RPP yang sudah dibuat, guru bisa menentukan apa-apa
saja yang dibutuhkan dalam penyampaian materi ajarnya.
Itulah beberapa point mengenai manfaat
daripada pembuatan RPP bagi guru, sehingga dengan mengetahui hal tersebut akan
semakin menambah semangat, motivasi dan kesungguhan dalam pembuatan RPP yang benar
dan tepat, sehingga dapat membantu dalam mewujudkan kesuksesan pada kegiatan
pembelajaran.
Menurut saya dari
beberapa pengalaman dan pengetahuan yang dimiliki megenai RPP, yaitu; RPP dapat
dibuat dan dirangcang tidak hanya untuk pembelajaran TATAP MUKA, namun untuk
kondisi yang sekarang ini karena Sekolah diberlakukan belajar di rumah, dan
juga PTM terbatas, dan pembatasan jumlah murid atau siswa yang ke sekolah, maka
pelaksanaan pembelajaran harus di desain dengan menerapkan pembelajaran
berbasis kolaborasi dan full daring, selain pembelajaran tatap muka.
Kamis, 26 Oktober 2023
CAHAYA ILMU
|
Anjuran Mencari Ilmu |
|
|
Kamis, 19 Oktober 2023
FIQIH IBADAH
Konsultasi : Ibadah
Berkurban (1)
Assalamualaikum
Wr. Wb.
Pak Ustadz, saya mau bertanya tentang wajib korban, karena dari beberapa
informasi yang saya terima, malah membuat saya bingung.
Pertanyaan saya : Dalam sebuah keluarga siapakah yang kena wajib korban?
a. apakah hanya kepala rumah tangga saja (bapak yang memberi nafkah bagi
keluarga tersebut).
b. atau harus sebanyak jumlah jiwa dalam keluarga tadi yaitu suami, istri dan
setiap anak.
c. kalau jawabannya poin a mohon penjelasannya, begitu juga bila jawabannya
poin b.
d. berkaitan dengan poin b (bila memang harus seperti itu tentang wajib
korban), apakah dalam melaksanakan korban bisa digilir secara bergantian mulai
dari suami hingga ke anak? (sesuai dengan kemampuan keuangan). Untuk
penjelasannya saya ucapkan terima kasih.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Adi Soenarko
Jawab:
Mas Adi, kurban itu hukumnya sunah. Tidak wajib. Kurban disunahkan bagi siapa
saja orang muslim, yang mampu, mukallaf (baligh dan berakal), dan tidak dalam
keadaan haji.
Dalam prakteknya, kebanyakan yang melaksanakan adalah kepala rumah tangga. Itu
karena, kebanyakan, ia yang mempunyai pemasukan keuangan.
Jadi, kalaupun kepala rumah tangganya sudah berkurban, ia tetap disunahkan
untuk berkurban mewakili anggota keluarganya.
Tapi itu tak menutup kemungkinan jika si istri, misal, punya uang sendiri untuk
membeli kambing, ya silahkan saja. Demikian juga, misalnya ada salah seorang
anaknya yang mampu membeli kambing sendiri, ya tak apa-apa.
Kalau misalnya, anggota keluarganya 8 orang, sementara ia baru mampu membeli 2
ekor kambing, ya kurbannya untuk 2 orang dulu. Yang belum kebagian, kurbannya
tahun-tahun berikutnya. Bergantian.
Atau, misal saja, keluarganya cuma 3 orang, kaya raya, tiap tahun bisa
berkurban, juga tak apa-apa. Mengikuti pendapat yang mengatakan bahwa kurban
itu disunahkan tiap tahun.
Bisa juga dalam berkurban, kalau sulit/tidak menemukan kambing, bergabung
dengan orang lain untuk membeli sapi. Seekor untuk bertujuh. Jadi, kalau satu
ekor kambing itu untuk satu orang, satu ekor sapi untuk 7 orang. Demikian,
Wallahua'lam bisshawaab.
Wassalamualaikum Wr. Wb.
Arif Hidayat
pesantrenvirtual.com
Rabu, 18 Oktober 2023
KISAH
Bibit
Kebaikan
sumber : pesantrenonline.com
Senin, 05 Juni 2023
Kata Bijak Ki Hajar Dewantara
“Serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang keadaan kayu, jenis-jenisnya, keindahan ukiran, dan cara-cara mengukirnya. Seperti itulah seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik, Bedanya, Guru mengukir manusia yang memiliki hidup lahir dan batin.”
Selasa, 01 November 2022
REFLEKSI
“Pendidikan yang berpihak pada Murid”
Engkau coba
bisikan kebenaran
Engkau
rangkai kata penuh keberanian
Engkau
berikan makna pengetahuan
Engkau
ajarkan hakikat didikan
Engkau
pancarkan sinar kemuliaan
Jiwa sang penuntun
akan kebaikan
--------
Sutarjo
05 September 2022
Refleksi Pemikiran Ki Hadjar
Dewantara
Setelah memahami pemikiran Ki Hadjar
Dewantara mengenai pendidikan dan pengajaran, dapt disimpulkan bahwa pengajaran
merupakan suatu proses dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup
anak secara lahir maupun bathin serta merupakan bagian dari Pendidikan itu
sendiri. Sedangkan Pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak
agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai
manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Sebagai seorang guru biasanya melaksanakan tugas hanya mengajar dan
menyampaikan ilmu pengetahuan, setelah itu dilakukan tes atau ujian untuk
mengukur sejauh mana para murid memahami dan mencapai hasil pembelajaran yang
telah diikuti Bersama teman dan gurunya. Ketercapaian pembelajaran seringkali
hanya diukur dari segi pengetahuan (kognitif) nya saja, hal ini dibuktikan
dengan persentasi yang paling besar menjadi perhatian dan parameter yang
digunakan adalah Ujian Teori Kognitif, sedangkan porsi untuk Keterampiran
(Psiokomotorik) dan SIkap (Afektif) mendapat porsi pendukung atau tambahan
penunjang dalam proses pembelajaran yang berlangsung dan yang terlaksana.
Pada kesempatan kali ini adanya perubahan mindset (pola pikir) yang
diperoleh setelah mempelajari, mendalami, mengkaji, dan merefleksi tentang
pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai definisi pembelajaran dan Pendidikan,
dasar-dasar Pendidikan, tujuan Pendidikan, mengenalkan konsep kodrat keadaaan,
pengenalan konsep bermain dalam belajar, pembelajaran yang memerdekakan, dan
mengajarkan semboyan jiwa Pendidikan nasional ; ingarso sing tulodo, ing madya
mangun karso, tut wuri handayani.
Adanya perubahan dalam diri yang dirasakan baik pada aspek pemahaman
(ilmu pengetahuan tentang Pendidikan), maupun sikap prilaku (perubahan dalam
mengajar dan mendidik) dari hasil pendalaman modul tentang pemikiran Ki Hadjar
Dewantara melalui proses kegiatan berpikir-kritis dan menerapkan relevansinya
dengan sosio-kultur di daerah tempat tinggal.
Dampak yang dirasakan oleh diri sendiri yang kemudian menjadi imbas dari
refleksi pemikiran ini adalah terjadinya perubahan dan tindakan yang dilaksanakan
dalam proses kegiatan pembelajaran dan pendidikan yang menuntun selama di kelas
maupun ruang lingkup sekolah. Hasil refleksi berpikir-kritis pemikiran Ki
Hadjar Dewantara yang langsung diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Pemahaman yang timbul dan terbaru mengenai perbedaan konsep
pembelajaran dan Pendidikan, menjadi kesenangan dan kebahagiaan dalam diri sendiri
yang menyebabkan semakin tergugah dan menjiwai peran dan visi sebagai sosok
guru yang dapat menuntun dan memberikan sesuatu Pendidikan yang bermakna pada muridnya.
2. Perubahan yang meningkat dalam aspek berpikir refleksi sesuai dengan
yang telah dipahami dari komsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, serta menambah
wawasan dalam menentukan strategi dan metodologi yang tepat serta sesuai untuk digunakan
terhadap murid menurut kodratnya yang telah di gariskan Tuhan. Hal tersebut diharapkan
dapat senantiasa dikembangkan oleh guru melalui kegiatan membaca dan menganalisis
serta menyesuaikan metode dengan situasi dan kondisi kodrat alam dan kodrat
zaman yang dimiliki oleh murid. Dengan demikian secara tepat dan efektif dapat
berkembang, berubah, mandiri dan merdeka dalam capaian kompetensi yang
dituntaskan oleh para murid dalam pembelajarannya.
Sabtu, 10 September 2022
Tugas C. Guru Penggerak
Artikel
“Pendidikan yang berpihak pada Murid”
Engkau coba
bisikan kebenaran
Engkau
rangkai kata penuh keberanian
Engkau
berikan makna pengetahuan
Engkau
ajarkan hakikat didikan
Engkau
pancarkan sinar kemuliaan
Jiwa sang penuntun akan kebaikan
--------
Sutarjo
05 September 2022
Refleksi Pemikiran Ki Hadjar
Dewantara
Setelah memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai pendidikan dan pengajaran, dapat disimpulkan bahwa pengajaran merupakan suatu proses dalam memberi ilmu atau berfaedah untuk kecakapan hidup anak secara lahir maupun bathin serta merupakan bagian dari Pendidikan itu sendiri. Sedangkan Pendidikan yaitu menuntun segala kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat.
Sebagai seorang guru biasanya melaksanakan tugas hanya mengajar dan menyampaikan ilmu pengetahuan, setelah itu dilakukan tes atau ujian untuk mengukur sejauh mana para murid memahami dan mencapai hasil pembelajaran yang telah diikuti Bersama teman dan gurunya. Ketercapaian pembelajaran seringkali hanya diukur dari segi pengetahuan (kognitif) nya saja, hal ini dibuktikan dengan persentasi yang paling besar menjadi perhatian dan parameter yang digunakan adalah Ujian Teori Kognitif, sedangkan porsi untuk Keterampiran (Psiokomotorik) dan SIkap (Afektif) mendapat porsi pendukung atau tambahan penunjang dalam proses pembelajaran yang berlangsung dan yang terlaksana.
Pada kesempatan kali ini adanya perubahan mindset (pola pikir) yang
diperoleh setelah mempelajari, mendalami, mengkaji, dan merefleksi tentang
pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengenai definisi pembelajaran dan Pendidikan,
dasar-dasar Pendidikan, tujuan Pendidikan, mengenalkan konsep kodrat keadaaan,
pengenalan konsep bermain dalam belajar, pembelajaran yang memerdekakan, dan
mengajarkan semboyan jiwa Pendidikan nasional ; ingarso sing tulodo, ing madya
mangun karso, tut wuri handayani.
Adanya perubahan dalam diri yang dirasakan baik pada aspek pemahaman
(ilmu pengetahuan tentang Pendidikan), maupun sikap prilaku (perubahan dalam
mengajar dan mendidik) dari hasil pendalaman modul tentang pemikiran Ki Hadjar
Dewantara melalui proses kegiatan berpikir-kritis dan menerapkan relevansinya
dengan sosio-kultur di daerah tempat tinggal.
Dampak yang dirasakan oleh diri sendiri yang kemudian menjadi imbas dari
refleksi pemikiran ini adalah terjadinya perubahan dan tindakan yang dilaksanakan
dalam proses kegiatan pembelajaran dan pendidikan yang menuntun selama di kelas
maupun ruang lingkup sekolah. Hasil refleksi berpikir-kritis pemikiran Ki
Hadjar Dewantara yang langsung diterapkan adalah sebagai berikut:
1. Pemahaman yang timbul dan terbaru mengenai perbedaan konsep
pembelajaran dan Pendidikan, menjadi kesenangan dan kebahagiaan dalam diri sendiri
yang menyebabkan semakin tergugah dan menjiwai peran dan visi sebagai sosok
guru yang dapat menuntun dan memberikan sesuatu Pendidikan yang bermakna pada muridnya.
2. Perubahan yang meningkat dalam aspek berpikir refleksi sesuai dengan
yang telah dipahami dari komsep pemikiran Ki Hadjar Dewantara, serta menambah
wawasan dalam menentukan strategi dan metodologi yang tepat serta sesuai untuk digunakan
terhadap murid menurut kodratnya yang telah di gariskan Tuhan. Hal tersebut diharapkan
dapat senantiasa dikembangkan oleh guru melalui kegiatan membaca dan menganalisis
serta menyesuaikan metode dengan situasi dan kondisi kodrat alam dan kodrat
zaman yang dimiliki oleh murid. Dengan demikian secara tepat dan efektif dapat
berkembang, berubah, mandiri dan merdeka dalam capaian kompetensi yang dituntaskan
oleh para murid dalam pembelajarannya.
3. Sebagai guru yang menerapkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara, maka dikatakan
bahwa dapat menemukan Pendekatan dan model pembelajaran atau pedidikan yang
dapat memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, membahagiakan,
memerdekakan dan memberikan perubahan yang signifikan terhadap diri murid
sebagai individu maupun masyarakat.
4. Setelah dikenalkan dan diberikan analogi terkait tugas dan
tanggungjawab seorang guru bagaikan seorang petani yang sedang berladang, perumpamaan
tersebut digambarkan dengan sangat kontras bagaimana perhatian, keseriusan,
kesungguhan, tekad dan perjuangan serta kerja keras dalam bekerja haruslan memiliki
target atau tujuan sesuai dengan kodratnya. Oleh karena itu seorang guru juga
harus dapat merencanakan, menyiapkan, melaksanakan pembelajaran dan pendidikan yang
menuntun serta berpusat pada murid, sehingga dapat mewujudkan pendidikan yang menghasilkan
murid yang selamat dan bahagia serta merdeka dan mandiri dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya sebagai manusia individu maupun sebagai anggota masyarakat.
Dari semua hal yang telah disampaikan
di atas, kemudian menjadi rencana dan tindakan yang harus dilaksanakan dan
diterapkan dalam pembelajaran kongkrit di kelas dan di sekolan. Pengajaran dan
Pendidikan yang dapat menuntun anak didiknya dalam mengembangkan bakat, minat,
dan potensi dirinya agar tumbuh kembang sesuai kodratnya. Dengan demikian akan
dihasilkan manusia-manusia yang mulia dan berbudi luhur yang dapat bermanfaat
bagi dirinya, keluarganya, masyarakat dan bangsa Indonesia.
Situasi para murid dan suasana lingkungan belajar yang diharapkan setelah memahami pemikiran Ki Hadjar Dewantara adalah: 1) memiliki pola pikir yang terbuka, teliti, kritis dan cerdas dalam memahami perjalanan hidup. 2) anak didik yang mampu bersaing dengan minat, bakat dan keahlian yang telah dimiliki, dilatih dan diasah di sekolah menjadi modal dalam mensejahterkan hidupnya sehari-hari. 3) para murid yang senantiasa merasa senang, bahagia dan terus konsisten dalam belajar dan melatih dirinya dalam aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap budi pekerti yang baik dalam setiap waktu dan perjalanan hidupnya.
Kemudian materi dan metode yang akan digunakan untuk mewujudkan pembelajaran yang menuntun atau berpusat pada murid adalah dengan mengenalkan dan memperdalam; 1) Konsep Diri, 2) Potensi Diri setiap Manusia, 3) Peluang kesuksesan dan keberhasilan setiap insan dengan pendidikan yang berkualitas, serta 4) manfaat dari semua materi yang diajarkan harus dapat dirasakan oleh murid, orang tua, guru dan masyarakat sekitarnya. Dengan metode silih asah silih asih dan silih asuh, dengan menggunakan asas gotong royong dalam menciptakan suasana belajar yang merdeka, merubah, dan mandiri baik di kelas maupun lingkup sekolah.
Rabu, 25 Mei 2022
Nasehat Bijak
Segeralah
Terangi Kegelapan
“siapa yang bisa menandingimu wahai anak cucu Adam dalam hal bertaubat? Engkau bisa datang ke mihrab kapanpun engkau mau, untuk menghadap Tuhanmu. Tak ada apapun yang membatasi antara dirimu dan Tuhanmu. Tak ada perantara, tak ada penterjemah”.
(Bakar
bin Abdillah Al Muzani)
Jangan
Pernah Kalah
“bersungguh-sungguhlah dengan kehinaan-mu, niscaya ia menolongmu dengan kemuliaan-Nya. Bersungguh-sungguhlah dengan ketidakberdayaanmu, niscaya ia menolongmu dengan kekuasaan-Nya. bersungguh-sungguhlah dengan kelemahanmu, niscaya ia menolongmu dengan kekuatan-Nya”.
(Ibnu
‘Athaillah)
Kelemahanku, Sumber Kekuatanku
“suplai bantuan Allah, tidak berlaku bagi orang yang dikuasai oleh hawa nafsu dan mengikuti syahwatnya”.
(Fudhail
bin Iyadh)
Antara
Mata dan Hati
“hati adalah raja. Dan seluruh tubuh adalah pasukannya. Jika rajanya baik maka baik pula pasukannya”.
(Ibnul
Qayyim)
Khusyu’
“barangsiapa memperbaiki hubungannya dengan Allah, maka Allah akan menyempurnakan hubungan-Nya dengan orang tersebut”.
(HR.
Hakim)
Pilih Yang Paling Berat
“jika
kabur bagimu dua perkara, maka perhatikanlah salah satu dari keduanya yang
paling terasa berat bagi nafsu, lalu ikutilah ia. Karena tidak ada sesuatu yang
terasa berat bagi nafsu kecuali sesuatu itu yang benar”.
(Ibnu
‘Athoillah)
Ya
Allah, Kenalkan Aku dengan Diriku
“barangsiapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki diri daripada sibuk mencari-cari aib dan kesalahan orang lain”.
(Ibnul
Qoyyim)
Sepucuk Nasehat
Nasehatilah diri sebelum usia terlanjur terhenti, karena penyesalan amatlah pahit dan menakutkan






